Pelaksanaan misa di Dusun Sambeng, Desa Wonoyoso, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang.
Beranda » Mustika » Toleransi Lintas Agama Mengakar di Sambeng, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Hadiri Misa Bulanan

Toleransi Lintas Agama Mengakar di Sambeng, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Hadiri Misa Bulanan

Semarang, Mustika Times – Toleransi antarumat beragama di Dusun Sambeng, Desa Wonoyoso, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, tidak sekadar diwujudkan melalui sikap saling menghormati, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.

Hal itu terlihat saat misa bulanan di Gereja Katolik St. Isidorus Sambeng, yang turut dihadiri lima mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Posko 18, Sabtu (8/8/2026).

Kehadiran mahasiswa KKN dari perguruan tinggi Islam tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana hubungan lintas agama terjalin secara alami di tengah masyarakat Sambeng. Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa tidak hanya berinteraksi dan terlibat dalam kegiatan masyarakat Muslim, tetapi juga bersilaturahmi serta hadir dalam kegiatan umat Katolik.

Misa berlangsung pukul 18.30 hingga 19.45 WIB dan diikuti sekitar 40 umat. Misa dipimpin Romo Sigit yang bertugas di Gereja Girisonta Karangjati dan mendapat tugas memimpin misa di Capel Sambeng satu kali dalam sebulan.

Dari Lingga, Pelajar Serukan Anak Muda Jangan Jadi Penonton Indonesia Emas

Romo Sigit menyambut terbuka kehadiran mahasiswa KKN UIN Walisongo. Menurutnya, perbedaan keyakinan semestinya tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk saling membantu dan membangun kehidupan bersama.

“Orang yang beragama menunjukkan karakter tertentu untuk bisa saling membantu dan tolong-menolong dalam kehidupan berbangsa,” ujar Romo Sigit.

Ia menilai kehidupan berdampingan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda merupakan pengalaman yang menarik. Pengalaman tersebut juga tidak asing baginya karena lingkungan keluarga besar dari pihak ayah maupun ibunya mayoritas Muslim.

Menurut Romo Sigit, kehidupan masyarakat di Semarang juga didukung lingkungan sosial yang baik dalam membangun dan menjaga toleransi antarumat beragama.

Merti Dusun di Wonoyoso Tetap Lestari, Krajan dan Dawung Punya Cara Berbeda Merawat Tradisi

Toleransi Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari

Kerukunan lintas agama juga dirasakan langsung oleh masyarakat Dusun Sambeng. Margareta Nasifa, Ketua Lingkungan Katolik Dusun Sambeng, mengatakan toleransi antarumat beragama telah menjadi bagian dari kehidupan warga sejak lama.

Menurutnya, hubungan baik antara warga Muslim dan Katolik tidak hanya terlihat dalam kegiatan bersama, tetapi juga ketika salah satu warga mengalami musibah atau kedukaan.

“Kalau ada orang Muslim yang meninggal, warga sudah bagi tugas. Yang Katolik ikut membantu masak-masak, bahkan ada yang membantu merangkai bunga untuk pemakaman,” ungkap Margareta.

Belajar dan Bermain, KKN UIN Walisongo Berikan Edukasi PHBS di SD Negeri 1 Kalianyar Demak

Ia mengatakan warga juga terbiasa bekerja sama dalam berbagai kegiatan, seperti PKK dan perlombaan di lingkungan dusun. Ketika Idulfitri tiba, warga Katolik turut menyediakan makanan dan bersilaturahmi dengan warga Muslim.

Kedekatan tersebut juga tampak dalam kehidupan bertetangga. Warga terbiasa saling berbagi dan membantu dalam memenuhi kebutuhan sederhana sehari-hari tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai batas dalam berinteraksi.

Hal senada disampaikan Tanti, warga yang rumahnya berada tepat di samping gereja. Menurutnya, kerukunan antara warga Muslim dan Katolik di Sambeng bukan sesuatu yang baru dibangun, melainkan telah berlangsung dan terjaga sejak lama.

“Di sini kehidupan sudah berjalan normal sejak dulu. Kerukunan memang sudah terjaga sejak lama,” ujar Tanti.

Gereja Menjadi Bagian dari Kehidupan Warga

Gereja Katolik St. Isidorus Sambeng merupakan satu-satunya tempat ibadah Katolik di Desa Wonoyoso. Keberadaan gereja tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sambeng dan hidup berdampingan dengan lingkungan warga yang mayoritas Muslim.

Dalam misa tersebut, Romo Sigit juga menyampaikan pesan reflektif mengenai kehidupan dan keimanan. Menurutnya, keyakinan kepada Tuhan bukan berarti manusia terbebas dari persoalan. “Badai” dalam kehidupan tetap dapat datang, tetapi manusia tidak seharusnya hanya berfokus pada persoalan yang sedang dihadapi.

Sebaliknya, manusia perlu tetap melihat Tuhan sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

 

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *