Beranda » Mustika » Mahasiswa UIN Walisongo Gelar Mimbar Bebas, Soroti Kekerasan Seksual Berkedok Agama di Kampus

Mahasiswa UIN Walisongo Gelar Mimbar Bebas, Soroti Kekerasan Seksual Berkedok Agama di Kampus

SEMARANG, Mustika Times – Mahasiswa UIN Walisongo Semarang menggelar Mimbar Bebas di Landmark Kampus 3 pada Senin, 11 Mei 2026. Mereka mengangkat tema “Mengungkap Realitas dan Upaya Mitigasi Kekerasan Seksual di Kampus yang Berkedok Agama.”

Melalui forum terbuka ini, mahasiswa menyuarakan keresahan atas dugaan kekerasan seksual di lingkungan kampus. Selama ini, isu tersebut beredar dari mulut ke mulut. Kini, mahasiswa membawanya ke ruang publik agar kampus tidak menutup mata.

Dema Nilai UIN Walisongo Tengah Hadapi Krisis Moral

Sebelum mimbar bebas berlangsung, Dewan Mahasiswa (Dema) UIN Walisongo menyampaikan sikap resmi melalui akun Instagram mereka. Dalam unggahan itu, Dema menilai integritas akademik kampus sedang menghadapi ujian serius.

“Mimbar pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi nalar budi dan etika, telah dicemari oleh tindakan pelecehan seksual melalui eksploitasi relasi kuasa oleh oknum dosen. Ini bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan pengkhianatan fundamental terhadap maruah institusi dan akal sehat.”

Utang Pemerintah Tembus Rp9.920 Triliun, Menkeu Purbaya Pastikan Rasio Masih Aman

Setelah unggahan itu muncul, perhatian mahasiswa langsung tertuju pada isu tersebut. Karena itu, banyak pihak menilai kasus ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan cermin rapuhnya etika di lingkungan akademik.

Mahasiswa Ingatkan Hakikat Pendidikan Tinggi

Selanjutnya, berbagai perwakilan organisasi kemahasiswaan mengikuti mimbar bebas dengan tertib. Dalam forum itu, mahasiswa menegaskan bahwa kampus harus mendidik, bukan sekadar menyampaikan materi perkuliahan.

Moh. Andika Arifin menyoroti arah pendidikan tinggi yang menurutnya perlu dikritisi.

“Melengkapi bahwa paradigma pendidikan tinggi itu harus benar-benar mendidik bukan hanya transfer keilmuan. Saya kasihkan contoh. Bagaimana bisa kita katakan mendidik di dalam ruang kelas kita, kalau transfer pengetahuan yang terjadi hanya transfer pengetahuan bagaimana cara menggunakan AI, gitu kan. Itu kan juga harus kita kritisi juga. Bukan hanya karena ada gejolak seperti ini baru kita semua keluar.” Ucapnya saat berada di mimbar orasi.

Dedi Mulyadi Minta Bobotoh Tahan Euforia, Siap Buka Gedung Sate Jika Persib Juar

Menurut Andika, kampus harus menanamkan nilai moral sekuat ia menanamkan ilmu pengetahuan. Sebab, tanpa etika, ruang kuliah hanya akan menjadi gedung yang ramai, tetapi kehilangan arah.

Jangan Anggap Remeh Masalah Kecil

Di akhir orasinya, Andika mengajak seluruh sivitas akademika untuk lebih peka terhadap persoalan yang kerap dianggap sepele.

“Kita tidak tahu apa landasan ataupun apa awal terjadinya hal ini sehingga kita menyepelekan hal kecil di seluruh pendidikan kita. Mungkin itu. Silakan diketahui nanti. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hidup mahasiswa!” Pungkasnya.

Setelah itu, peserta menyambut seruan “Hidup mahasiswa!” dengan lantang. Dengan demikian, mimbar bebas ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga penegasan bahwa mahasiswa ingin menjaga kampus tetap waras, bersih, dan bermartabat.

Persib Mengaum di Samarinda, Persaingan Juara Masih Membara

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *