Semarang, MustikaTimes – Malam perlahan turun di Desa Wonoyoso, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Di tengah suasana dusun yang mulai sepi, suara gamelan justru terdengar semakin jelas. Lampu panggung menyala, warga berdatangan, dan pertunjukan wayang dimulai.
Bagi masyarakat Wonoyoso, wayang bukan sekadar tontonan. Di balik layar, gamelan, tokoh pewayangan, dan cerita yang dimainkan, tersimpan sebuah tradisi yang terus dijaga (Merti Dusun).
Tradisi itu masih hidup hingga kini. Dusun Krajan dan Dusun Dawung sama-sama menjadikan pertunjukan wayang sebagai bagian dari merti dusun. Namun, keduanya memiliki cara berbeda dalam merawat dan menjalankan tradisi tersebut.
Perbedaan itu justru memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu harus berjalan dalam satu pola. Ia dapat menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat, zaman, dan kebutuhan warganya, tanpa kehilangan makna yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Krajan dan Tradisi yang Dirawat Dua Tahun Sekali
Di Dusun Krajan, merti dusun digelar pada Sabtu (1/8/2026) hingga Minggu (2/8/2026). Pertunjukan wayang berlangsung sejak pukul 20.00 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB.
Tidak ada panggung besar yang berdiri tanpa dukungan masyarakat. Pelaksanaan merti dusun di Krajan dibiayai melalui iuran warga yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi masing-masing.
Masyarakat dibagi ke dalam tiga golongan, yakni donatur, warga yang dianggap mampu, dan warga yang kurang mampu. Besaran iuran pun dibuat berbeda.
Bagi Juremi, Sekretaris Panitia Merti Dusun Krajan, tradisi tersebut bukan sekadar agenda rutin. Merti dusun menjadi bentuk rasa syukur sekaligus upaya mempertahankan budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Tujuannya sama, sebagai ucapan syukur. Di Wonoyoso ini tidak ada merti desa, yang ada justru merti dusun,” ujar Juremi.
Merti dusun di Krajan sendiri dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Dalam pelaksanaannya, masyarakat tidak lagi terpaku pada hari tertentu yang pada masa lalu dianggap memiliki nilai keramat.
Kini, pertimbangan yang digunakan lebih praktis. Jadwal dalang, hari libur, hingga kondisi musim menjadi bagian dari penentuan waktu pelaksanaan.
“Dulu memang ada hari yang dianggap keramat. Sekarang lebih menyesuaikan jadwal dalang, hari libur, dan musim. Kami memilih waktu ketika musim kemarau,” jelas Juremi.
Namun, perubahan cara menentukan waktu tidak lantas mengubah makna tradisi.
Dawung Merawat Tradisi dengan Dua Sesi Wayang
Sepekan setelah Krajan, giliran Dusun Dawung menggelar merti dusun. Kegiatan berlangsung pada Sabtu (8/8/2026) hingga Minggu (9/8/2026).
Jika Krajan menggelar wayang dalam satu rangkaian pertunjukan malam, Dawung memiliki pola yang berbeda. Pertunjukan dibagi menjadi dua sesi.
Wayang siang berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB. Setelah jeda, pertunjukan kembali digelar pada malam hari, mulai pukul 20.00 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB.
Bagi masyarakat Dawung, merti dusun memiliki makna yang tidak kalah kuat. Kepala Dusun Dawung, Sujito, menyebut kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya sekaligus momentum resik-resik desa yang dimaknai sebagai simbol kesucian.
Pelaksanaan kegiatan juga mempertimbangkan kenyamanan warga. Sabtu malam hingga Minggu dini hari dipilih agar masyarakat dapat mengikuti rangkaian utama dengan lebih leluasa.
Jadwal dalang dan kondisi musim kemarau turut menjadi pertimbangan.
Ada pula perbedaan lain dengan Krajan. Jika Krajan menerapkan iuran berdasarkan kemampuan ekonomi warga, Dawung menetapkan jumlah iuran yang sama bagi seluruh masyarakat.
Cara boleh berbeda, tetapi tujuan tetap bertemu pada satu titik, yaitu kebersamaan dan rasa syukur.
Ketika Tradisi Menjadi Ruang Pertemuan
Merti dusun pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang berada di atas panggung dan siapa yang menonton dari bawah.
Di sekitar pertunjukan, masyarakat bertemu. Warga dari dusun lain datang. Tamu undangan berdatangan. Anak-anak, orang tua, dan generasi muda bercampur dalam satu ruang yang sama.
Tradisi yang diwariskan dari masa lalu pun menemukan kehidupan barunya melalui perjumpaan tersebut.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan merti dusun, di antaranya Kepala Desa Wonoyoso Amir Burhanuddin dan Camat Pringapus Slamet Shodiq.
Dalam sambutannya di Dusun Dawung, Amir menegaskan komitmen masyarakat untuk mempertahankan pertunjukan wayang sebagai bagian dari tradisi desa.
“Wayangan ini memang selalu dan akan selalu dilestarikan di Desa Wonoyoso sebagai perwujudan syukur,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa wayang masih memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat Wonoyoso. Di tengah perubahan zaman, pertunjukan tradisional itu tetap menemukan tempatnya dalam agenda kehidupan warga.
Dari Wonoyoso, Mahasiswa KKN Belajar tentang Tradisi
Merti dusun juga menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 18 yang turut membantu pelaksanaan kegiatan.
Para mahasiswa tidak hanya menjadi penonton. Mereka terlibat dalam berbagai kebutuhan kegiatan, mulai dari dokumentasi, menjadi pembawa acara, hingga membantu membagikan makanan dan minuman kepada tamu undangan serta kru pertunjukan wayang.
Di antara mereka terdapat Mathly Asira, mahasiswa KKN asal Kamboja.
Bagi Mathly, menyaksikan pertunjukan wayang secara langsung menjadi pengalaman tersendiri. Ia dapat melihat bagaimana masyarakat Wonoyoso menjaga sebuah tradisi yang telah melekat dalam kehidupan mereka.
Ada satu tantangan yang ia hadapi, yaitu bahasa.
Sebagian besar cerita dan percakapan dalam pertunjukan wayang menggunakan bahasa Jawa yang belum sepenuhnya ia pahami. Namun, keterbatasan tersebut tidak mengurangi ketertarikannya untuk mengikuti jalannya pertunjukan.
Mathly mengaku senang dapat menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat Wonoyoso mempertahankan budaya lokal di tengah kehidupan masyarakat yang mayoritas beragama Islam.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa tradisi lokal tidak hanya memiliki arti bagi masyarakat yang menjalaninya, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar bagi siapa saja yang datang dan berinteraksi dengan masyarakat Wonoyoso.
Merti dusun pun terus hidup, bukan hanya sebagai pertunjukan, melainkan sebagai cara masyarakat menjaga rasa syukur, kebersamaan, dan warisan budaya dari generasi ke generasi.

Komentar