Beranda » Mustika » Tip Kurir ShopeeFood: Receh Buat Kita, Tambahan Buat Mereka

Tip Kurir ShopeeFood: Receh Buat Kita, Tambahan Buat Mereka

Mustika Times – Jujur saja, saya belum masuk golongan orang yang mapan secara finansial. Gaji bulanan saya masih tergolong pas-pasan, tipe yang baru mampir lalu pamit sebelum sempat duduk manis di dompet.

Karena sadar isi kantong belum tebal, saya cukup sering mengandalkan promo di aplikasi pesan antar makanan seperti ShopeeFood. Namun, kalau diskonnya sedang pelit, saya lebih memilih keluar rumah dan cari makan sendiri.

Saya juga harus jujur pada satu hal. Dulu, saya termasuk orang yang malas memberi tip ke kurir makanan.

Logika saya waktu itu sederhana. Saya sedang berhemat, jadi kenapa harus keluar uang tambahan? Toh, kurir sudah mendapat ongkos kirim dari aplikasi. Di kepala saya, tip hanya tampak seperti pengeluaran sukarela yang bikin dompet makin kurus.

Harga Emas Melemah ke US$4.600, Pasar Tunggu The Fed dan Dampak Perang Iran

Bagi orang dengan gaji pas-pasan, uang dua ribu sampai lima ribu terasa kecil, tapi tetap punya bunyi. Dan saat isi dompet tipis, bunyi receh kadang terdengar lebih nyaring dari suara hati.

Promo Murah, Logika Saya Retak

Lalu, satu kejadian sederhana pelan-pelan mengubah cara saya berpikir.

Suatu hari, saya mendapat promo yang cukup ganas di aplikasi. Harga satu porsi makanan yang awalnya Rp41.000 turun jadi Rp25.000 setelah diskon. Otak hitung-hitungan saya langsung menyala seperti kasir minimarket.

Kalau saya menambah tip Rp5.000 untuk kurir, total pengeluaran saya tetap hanya Rp30.000. Artinya, saya masih “selamat” sebelas ribu dari harga normal. Karena merasa tetap untung, saya pun memberi tip Rp5.000 lewat aplikasi.

Rosan Roeslani Minta Audit Total Usai Tabrakan Kereta Bekasi, 14 Orang Tewas

Pesanan datang cukup cepat. Saat makanan tiba, kurir menyerahkan pesanan seperti biasa. Saya memberi rating bintang lima, lalu menambahkan tip.

Namun setelah itu, sesuatu yang kecil justru terasa menampar.

Uang Rp5.000 yang Ternyata Sangat Berarti

Kurir yang belum sempat beranjak tiba-tiba mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil sedikit menundukkan kepala.

“Terima kasih banyak tipnya ya, Mas. Sangat membantu, semoga rezekinya selalu lancar,” katanya, dengan nada yang halus.

Pemerintah Evaluasi Izin Green SM Usai Tabrakan Maut KRL dan Argo Bromo di Bekasi

Saya sempat tertegun. Reaksinya terasa seperti saya baru saja memberi bonus besar, padahal nominalnya cuma Rp5.000. Bagi saya, uang itu hanya sisa promo. Buat dia, rupanya beda cerita.

Di situ saya mulai sadar, kadang receh yang kita anggap remeh justru terasa seperti pelampung bagi orang lain yang sedang berenang di hari panjang.

Kurir Sering Nombok karena Parkir

Rasa penasaran itu akhirnya terjawab lewat obrolan santai dengan seorang kurir ojek online di angkringan.

Tanpa banyak drama, ia bicara blak-blakan soal realitas di lapangan.

“Biaya pengantaran sekarang makin turun, Mas,” kata dia. “Jarak dekat kadang saya cuma dapat tujuh ribu dari aplikasi. Kalau ambil orderan di resto yang ada tukang parkirnya, saya harus nombok buat bayar parkir. Bersihnya cuma bawa lima ribu.”

Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti tamparan tipis yang pas kena pipi. Hitung-hitungan saya mendadak runtuh.

Upah kurir ternyata tidak setebal yang terlihat di layar aplikasi. Mereka harus membagi penghasilan untuk bensin, kuota internet, servis motor, sampai biaya parkir. Sistem menyebut mereka “mitra”, tapi jalanan tetap menagih ongkos penuh.

Tip Kecil Bisa Jadi Penolong

Di titik itu, logika saya mulai terbuka. Saya akhirnya paham kenapa kurir tadi berkali-kali mengucapkan terima kasih untuk tip Rp5.000.

Saat ongkos pengantaran tergerus biaya operasional dan parkir, tambahan dua ribu sampai lima ribu rupiah dari pelanggan bisa jadi napas tambahan. Nilainya mungkin kecil buat kita, tapi cukup berarti buat mereka yang hidup dari order ke order.

Sejak itu, saya mulai membiasakan diri memberi tip. Tidak harus besar. Saya hanya membulatkan total belanja.

Kalau total pesanan Rp26.000, saya genapkan jadi Rp30.000. Kalau tagihannya Rp27.000, saya sisihkan Rp3.000 untuk kurir. Kadang cuma Rp1.000 atau Rp2.000, tapi tetap saya beri.

Nominalnya memang kecil. Namun bagi kurir, uang segitu setidaknya bisa menutup parkir agar mereka tidak nombok di tengah jalan.

Kadang Saya Tambah Makanan, Bukan Cuma Tip

Seiring waktu, saya juga mulai menemukan cara lain untuk berbagi. Bukan dengan gaya dermawan kelas sultan, tapi lewat celah promo yang kadang longgar seperti pagar tua.

Di aplikasi seperti ShopeeFood, promo kadang punya pola yang unik. Satu porsi makanan bisa turun dari Rp30.000 ke Rp25.000. Tapi saat saya membeli dua porsi sekaligus, potongannya justru lebih besar.

Akhirnya, dua porsi makanan kadang hanya keluar Rp30.000 sampai Rp35.000. Kalau sedang dapat skema seperti itu, saya sekalian pesan dua.

Saat kurir datang, saya ambil satu porsi untuk saya. Satu porsi lagi saya serahkan ke dia.

Sederhana, tidak megah, dan jelas bukan aksi pamer kebaikan. Saya hanya memindahkan sedikit ruang dari promo ke perut orang yang mungkin belum sempat makan.

Berbagi Tidak Harus Menunggu Kaya

Pengalaman itu mengajari saya satu hal yang sederhana, tapi sering luput. Kita tidak harus menunggu kaya untuk mulai berbagi.

Memberi tip beberapa ribu rupiah atau menyisihkan satu porsi makanan dari hasil berburu diskon tidak akan membuat kita miskin. Namun bagi mereka yang setiap hari bertaruh tenaga di jalanan, receh yang sering kita anggap sepele justru bisa terasa seperti pegangan kecil agar hari tidak runtuh.

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *