Mustika Times – Di balik gemerlap investasi tambang emas di Maluk, Sumbawa Barat, ada warga yang menanggung ongkos paling mahal. Mereka bukan pemegang saham, bukan petinggi perusahaan, melainkan perempuan yang setiap hari menyapu debu, mengangkut air, dan memungut sisa hidup yang pelan-pelan digerus tambang.
Lulu, bukan nama sebenarnya, menjadi salah satu saksi yang hidup di lingkar tambang itu. Setiap hari, perempuan 31 tahun ini memasak, mencuci, membersihkan rumah, merawat keluarga, lalu mengantar dua anaknya ke sekolah yang berjarak sekitar setengah kilometer dari rumah. Dulu, rutinitas itu berjalan biasa saja. Kini, hidupnya seperti menanak nasi di atas tungku yang tak pernah benar-benar padam.
Debu Smelter Masuk ke Rumah, Masuk ke Paru-Paru
Lulu pindah ke Maluk pada 2013 setelah menikah. Sejak itu, ia melihat sendiri bagaimana wajah kampungnya berubah drastis setelah tambang emas dan smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) masuk.
Sejak perusahaan membangun smelter pada 2019, Lulu dan keluarganya hidup berdampingan dengan debu tebal dan suara alat berat. Debu beterbangan setiap hari, menempel di lantai, di meja makan, bahkan singgah ke piring seperti tamu tak diundang yang datang tanpa sopan santun.
“Sekarang ada smelter itu dari awal ini pembangunannya itu kan penggusuran nih. Saat itu debunya MasyaAllah. Kita lagi makan debunya itu muncul sekali di piring itu,” ujar Lulu.
Debu itu tidak cuma mengotori rumah. Debu juga mengganggu napas anak-anak Lulu saat pergi ke sekolah. Karena itu, mereka harus memakai masker bahkan saat berjalan kaki. Dalam beberapa kesempatan, pihak sekolah juga menghentikan kegiatan belajar karena debu terlalu tebal.
Sungai Rusak, Anak-anak Kehilangan Ruang Bermain
Selain debu, Lulu juga melihat sungai yang dulu menjadi nadi kampung kini berubah wajah. Dulu, warga memancing ikan, mandi, mencuci, dan membiarkan anak-anak bermain di sana. Sekarang, sungai itu keruh, ikan menghilang, dan kulit anak-anak cepat bermasalah.
“Dulu banyak ikannya, orang-orang sini suka ambil ikan di sana, anak-anak juga sering mandi main di sungai. Sekarang baru sebentar kita main di sungai, anak-anak sudah kena kutu air, kulit cepat kebakar juga,” cerita Lulu.
Bagi warga Maluk, sungai bukan sekadar aliran air. Sungai adalah halaman belakang, tempat anak-anak tumbuh, dan ruang kecil tempat hidup terasa ringan. Kini, ruang itu ikut keruh.
Tambang Mengubah Maluk, Warga Kehilangan Nafas Hidup
Maluk merupakan kecamatan pesisir di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dengan luas sekitar 38,83 kilometer persegi dan penduduk sekitar 14.303 jiwa pada 2025. Sebelum tambang datang, warga Maluk hidup dari laut, kebun, hutan, dan pasar kecil yang bergerak pelan tapi cukup.
Warga melaut, berkebun, berdagang, dan mencari madu hutan. Hidup mereka tidak mewah, tetapi cukup. Namun, setelah tambang masuk, ritme hidup berubah. Tambang datang membawa alat berat, tetapi juga menyeret debu, kebisingan, penggusuran, dan hilangnya sumber penghidupan.
Hutan Hilang, Perempuan Kehilangan Penghasilan
Lulu juga melihat perubahan paling tajam saat hutan makin sulit diakses. Dulu, banyak keluarga menggantungkan hidup dari madu hutan, kayu bakar, dan hasil kebun. Kini, akses itu makin sempit karena perusahaan menguasai banyak ruang.
“Mereka punya akses ke sana. Terus sekarang sudah tidak ada; untuk mencari kayu bakar pun sudah tidak ada akses. Jadi sekarang itu lebih ke cari kayu bakar sama madu lebih ke Kecamatan Sekongkang untuk mencari,” keluh Lulu.
Bagi perempuan Maluk, hilangnya hutan bukan sekadar hilangnya pohon. Hilangnya hutan juga memutus penghasilan kecil yang selama ini mereka pegang dari mengolah madu, menjual telur lebah, dan menopang dapur rumah.
“Biasanya, di hutan banyak laki-laki yang ambil madu. Kalau perempuan hanya menjual dan mengolah telur lebah menjadi pepes dan sebagian telurnya juga dijual,” cerita Lulu.
Lapangan Kerja Dijanjikan, Warga Lokal Justru Tersingkir
Tambang datang dengan janji lapangan kerja. Namun, janji itu lebih mirip selebaran manis yang cepat beterbangan. Lulu menilai perusahaan lebih banyak membuka pintu untuk orang luar daripada warga lokal.
“Kalau AMMAN ini, kebanyakan orang dalam sama orang luar yang diambil, bukan yang asli lokal dari sini. Dengan dalih harus memiliki keahlian,” tuturnya.
Menurut Lulu, warga Maluk yang berhasil masuk ke lingkar tambang umumnya hanya menempati posisi buruh kasar. Sementara itu, perempuan biasanya bekerja di posisi paling bawah seperti petugas kebersihan. Di sisi lain, jabatan strategis justru banyak diisi orang luar daerah, bahkan tenaga kerja asing.
Air Bersih Susah, Warga Harus Antre Panjang
Masalah lain muncul dari air bersih. Sejak smelter berdiri, sumur warga mengering. Warga kini mengandalkan tangki air dan harus antre panjang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
“Kami kira pompa udara dibuat untuk warga disini, untuk warga kami, untuk masyarakat. Ternyata hanya dipasok ke pihak smelter,” tukasnya.
Ironinya terasa pahit. Warga hidup di tanah yang dikeruk, tetapi tetap kesulitan minum air bersih. Tambang mengisap isi bumi, lalu menyisakan kerongkongan kering untuk warga sekitar.
Perempuan Menanggung Beban Berlapis
Di Maluk, perempuan memikul beban paling panjang. Mereka menghadapi debu, banjir, air tercemar, harga kebutuhan yang naik, dan pekerjaan domestik yang makin berat. Saat sungai rusak, perempuan kehilangan air untuk mencuci. Saat banjir datang, perempuan juga yang lebih dulu membersihkan rumah.
Di saat yang sama, perempuan juga menghadapi ancaman kekerasan berbasis gender. Yanti dari LBH APIK NTB mencatat kekerasan terhadap perempuan di wilayah tambang terus muncul, mulai dari kekerasan seksual hingga kekerasan dalam rumah tangga.
“Mereka itu jadi benar-benar kehilangan rasa aman untuk tempat bermain. Misalnya kalau jam 9 malam rumahnya itu kan dekat kafe. Banyak yang mabuk minum pekerja tambang di sana. Jadi misalnya anak sekolah ini ketika pulang atau keluar malam untuk beli apa aja dari rumahnya tuh ditarik tangan oleh pekerja-pekerja yang mabuk-mabuk itu,” tukas Yanti.
Bagi perempuan Maluk, tambang bukan cuma soal lubang di tanah. Tambang juga melubangi rasa aman, merusak ruang hidup, lalu meninggalkan beban berlapis yang harus mereka tanggung setiap hari.

Komentar