Beranda » Mustika » Salah Kaprah Syukur dan Qana’ah: Mengapa Diam Saat Dieksploitasi Bukanlah Ibadah?

Salah Kaprah Syukur dan Qana’ah: Mengapa Diam Saat Dieksploitasi Bukanlah Ibadah?

mustikatimes.online – Pernahkah Anda mendengar kalimat, “Syukuri saja gaji yang ada, di luar sana banyak yang menganggur”? Sekilas, kalimat ini terdengar sangat religius dan menenangkan. Namun, jika kalimat ini digunakan untuk membungkam pekerja yang hak-hak dasarnya dirampas, maka di situlah letak kekeliruannya.

Banyak dari kita yang terjebak dalam kerancuan antara Syukur, Qana’ah, dan Ridha bi al-Zulm (rela pada kezaliman). Mari kita bedah mengapa menerima upah di bawah standar kelayakan sambil “diam” bukan berarti Anda sedang bersyukur, melainkan sedang membiarkan kemungkaran.

Syukur itu Aktif, Bukan Pasif

Banyak yang mengira syukur hanyalah ucapan “Alhamdulillah” saat menerima apa pun, termasuk ketidakadilan. Padahal, dalam esensinya, Syukur adalah menggunakan nikmat Tuhan untuk ketaatan.

Tubuh yang sehat dan akal yang cerdas adalah nikmat. Menggunakan akal untuk menuntut keadilan (hak atas upah yang layak) adalah bentuk syukur atas martabat yang Tuhan berikan kepada manusia. Sebaliknya, membiarkan diri diperas hingga kehilangan martabat justru merupakan bentuk pengabaian terhadap nikmat diri.

Gaya Kehidupan Remaja di Jakarta yang Dinamis dan Dipengaruhi Teknologi Digital

Fiqih Muamalah: Keadilan adalah Syarat Sah

Dalam Islam, hubungan kerja bukan sekadar soal “siapa butuh siapa”, melainkan tentang Akad yang Adil (‘Adl). Ada dua prinsip besar dalam transaksi ekonomi Islam:

  1. La Dharar wa La Dhirar: Tidak boleh merugikan diri sendiri dan tidak boleh merugikan orang lain.

  2. Keadilan Upah: Rasulullah SAW memerintahkan untuk memberikan upah sebelum keringat pekerja kering, dan upah tersebut haruslah mencukupi kebutuhan hidupnya secara makruf.

Jika seorang pemberi kerja memberikan upah jauh di bawah standar kelayakan hidup demi meraup untung pribadi yang sebesar-besarnya, ia telah melanggar prinsip keadilan. Dalam posisi ini, Islam tidak memerintahkan kita untuk “menikmati” eksploitasi tersebut atas nama kesabaran.

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Kenalkan 3J Tips Diet bagi Penderita Diabetes Melitus

Qana’ah vs. Rela pada Kezaliman

Qana’ah adalah merasa cukup dengan apa yang didapat setelah kita berusaha secara maksimal dan adil. Sedangkan Ridha bi al-Zulm adalah sikap pasrah saat hak kita dicuri atau diinjak-injak.

  • Qana’ah: Anda bekerja di tempat yang adil, gaji sudah sesuai standar, tapi Anda tidak iri dengan kekayaan orang lain.

  • Ridha bi al-Zulm: Anda bekerja 12 jam sehari, gaji tidak cukup untuk makan sehari-hari, tapi Anda diam saja karena takut disebut “kurang bersyukur”.

Ingatlah, mencegah kemungkaran (termasuk ketidakadilan ekonomi) adalah kewajiban agama. Mengubah sistem yang eksploitatif adalah bagian dari amal saleh.

Jawaban Hidup Sehat, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Bagikan Tips Diet Sehat Bagi Penderita Hipertensi

Menjadi Muslim yang Kritis

Menjadi Muslim yang baik tidak berarti menjadi individu yang mudah ditindas. Tuhan memerintahkan kita untuk menjadi saksi-saksi yang adil. Jika kita melihat atau mengalami ketidakadilan di tempat kerja, menyuarakannya bukan berarti kita tidak bersyukur kepada Tuhan. Justru, itu adalah upaya kita untuk menegakkan perintah Tuhan tentang keadilan di muka bumi.

Syukur itu wajib, namun memperjuangkan hak adalah bentuk kehormatan. Mari jangan campur adukkan kesabaran dengan ketidakberdayaan.

Artikel Terkait