Jakarta, Mustika Times – Sutradara Wregas Bhanuteja akan merilis film panjang ketiganya, Para Perasuk, pada 23 April 2026. Film ini mengikuti kisah Bayu, yang diperankan Angga Yunanda, seorang pemuda yang berambisi menjadi “perasuk”, yakni perantara roh binatang dalam tradisi pesta kerasukan di sebuah desa.
Namun, Para Perasuk tidak datang sebagai film horor biasa yang cuma menjual gelap dan jumpscare. Wregas meracik cerita ini seperti mantra yang pelan-pelan merayap, lalu menggigit isu yang lebih liar: perebutan ruang hidup dan perlawanan warga.
Saat konferensi pers pada Selasa (14/4/2026), Wregas mengungkapkan bahwa cerita Para Perasuk lahir dari pengalaman masa kecil adiknya yang akrab dengan hal-hal paranormal.
“Waktu kecil, adik saya bilang, ada kucing raksasa berekor tiga di atap rumah. Terus dia mengoleksi roh binatang, kayak kura-kura raksasa, kelelawar putih. Sampai di dalam ruangan banyak sekali roh binatang yang dijadikan teman,” tutur Wregas.
Dari pengalaman itu, Wregas meramu dunia yang dipenuhi roh binatang, mitos, dan ruang-ruang gaib yang terasa akrab bagi masyarakat desa. Ia lalu membawanya ke layar lebar dengan napas yang lebih liar, tetapi tetap membumi.
Pesta Sambetan Jadi Simbol Perlawanan
Dalam film ini, Wregas menempatkan pesta kerasukan atau pesta sambetan sebagai ritual adat yang sakral. Di satu sisi, tradisi itu menjadi hiburan bagi warga desa. Namun, di sisi lain, Wregas menjadikannya simbol perlawanan terhadap pihak yang ingin menguasai mata air desa.
Konflik itu menjadi urat nadi cerita. Wregas menanamkan gagasan bahwa ritual bukan sekadar urusan mistik, tetapi juga bahasa warga untuk menjaga tanah, air, dan ruang hidup mereka dari tangan yang terlalu rakus.
Saat menjawab pertanyaan soal hak ulayat, Wregas menegaskan bahwa konflik semacam itu masih sering terjadi di Indonesia. Ia menyinggung banyak perusahaan tambang dan agribisnis yang terus mengganggu kesejahteraan masyarakat adat.
Ritual, Mitos, dan Upaya Menjaga Ibu Bumi
Wregas menjadikan konflik itu sebagai pijakan utama saat menulis naskah. Ia juga menggambarkan kehidupan masyarakat yang lekat dengan ritual dan mitos, termasuk kepercayaan soal penunggu hutan dan penjaga mata air.
Menurut Wregas, banyak orang kerap memandang hal-hal itu sebagai kisah mistis belaka. Padahal, di balik cerita gaib itu, masyarakat sedang menyimpan cara lain untuk menjaga alam.
“Kadang kita melihatnya mistis. Padahal itu salah satu usaha untuk menyelamatkan alam, Ibu Bumi. Makanya film ini mengangkatnya lewat roh binatang,” ujar Wregas.
Para Perasuk Dapat Sambutan Hangat di Sundance
Para Perasuk menjadi film panjang ketiga Wregas Bhanuteja dan diproduksi Rekata Studio. Sebelum tayang di Indonesia, film ini lebih dulu tayang perdana dan berkompetisi di Sundance Film Festival, Amerika Serikat, pada Januari 2026.
Di festival itu, Para Perasuk mendapat standing ovation dari penonton. Sambutan itu menjadi sinyal bahwa cerita lokal tidak kehilangan taring saat melangkah ke panggung global.
“Kami sempat khawatir, penonton internasional tidak paham tentang budaya kerasukan di Indonesia. Mereka justru menceritakan cerita soal obsesi diri dan memaafkan masa lalu,” tambah Wregas.
Setelah Sundance, Para Perasuk akan melanjutkan perjalanannya ke sejumlah festival internasional lain. Film ini dijadwalkan tayang di Miami Film Festival, Minneapolis-St. Paul International Film Festival, Fantaspoa International Film Festival di Brasil, dan Mooov Film Festival di Belgia.

Komentar