Mustika Times – Saat masih kecil, banyak anak pernah melontarkan cita-cita yang terdengar gagah, jadi dokter. Kalimat itu meluncur ringan, nyaris seperti mantra masa kecil yang akrab di telinga keluarga.
Seragam putih, stetoskop, dan bayangan jadi penolong sering datang lebih dulu sebelum anak benar-benar memahami isi dapur dunia medis.
Biasanya, keinginan itu tumbuh dari pengalaman sederhana. Anak melihat dokter membantu orang tua, menyaksikan tenaga kesehatan merawat keluarga, lalu menaruh kagum.
Dari sana, benih cita-cita tumbuh pelan. Media, cerita orang dewasa, dan gambaran tentang profesi penyelamat ikut menyiramnya sampai subur.
Namun, semangat itu tidak selalu langsung mengundang keyakinan. Banyak orang tua memang tersenyum saat mendengar anaknya ingin jadi dokter, tetapi senyum itu sering menyimpan hitung-hitungan yang diam-diam berisik. Di balik kebanggaan, kecemasan ikut duduk manis di pojok kepala.
Bagi keluarga kelas menengah, jalan menuju fakultas kedokteran kerap terasa seperti lorong panjang dengan lampu yang mahal.
Biaya kuliah tinggi, materi pelajaran padat, dan jalur pendidikan panjang sering membuat mimpi itu tampak gagah, tetapi juga galak.
Selain soal biaya, banyak orang tua juga merasa gamang saat mendampingi anak di jalur ini. Ketika rumah tidak punya kamus medis, istilah anatomi sering terdengar seperti bahasa planet lain. Niat mendukung tetap ada, tetapi rasa percaya diri kadang goyah sebelum sempat berdiri tegak.
Bahkan Dokter Pun Mulai Ragu
Menariknya, keraguan ini tidak hanya datang dari keluarga nonmedis. Bahkan, sebagian dokter justru ragu mendorong anak mereka mengikuti jejak yang sama.
Profesi ini tetap mulia, tetapi jalannya kini tidak selalu semulus jas putih yang tampak rapi dari luar.
Salah satu suara itu datang dari Brennan David Kruszewski, MD. Ia tumbuh di keluarga dokter dan mengenal dunia medis bukan dari brosur, melainkan dari ruang praktik yang sesungguhnya.
Dalam tulisannya di situs Op-Med, Dr. Kruszewski mengutip survei Doximity yang menyebut sekitar dua pertiga dokter tidak ingin anak-anak mereka menjadi dokter.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam itu, profesi dokter kini berubah jauh dari wajah lamanya. Sistem layanan kesehatan bergerak makin rumit, ruang gerak dokter menyempit, dan utang pendidikan sering menggantung seperti langit mendung yang enggan pergi.
“Dunia kedokteran saat ini hampir tidak menyerupai kondisi ketika saya geluti pada tahun 90-an,” tulis Dr. Kruszewski.
Meski begitu, ia tidak menutup pintu sepenuhnya. Ia tetap mengakui profesi dokter masih menyimpan makna, hanya saja jalan menuju sana kini tak lagi seromantis poster kampus.
“Hal-hal terbaik tentang kedokteran masih ada di luar sana untuk ditemukan, bagi kita yang mencarinya. Sensasi ketika berhasil menegakkan diagnosis yang akurat tetaplah sama, begitu pula kepuasan dalam menjalin hubungan jangka panjang dengan pasien,” terangnya.
Sistem yang Rumit Bikin Profesi Dokter Berat
Senada dengan itu, dokter lulusan UCLA dan Stanford Oncology, David Chan, MD, juga menyampaikan pandangan serupa. Dalam tulisannya yang HuffPost publikasikan ulang pada 2016, Dr. Chan menegaskan keraguan itu tidak lahir karena profesi dokter kehilangan makna.
Sebaliknya, persoalannya justru datang dari sistem yang makin ruwet. Banyak dokter kini lebih sering bergulat dengan administrasi daripada duduk tenang mendengar napas pasien.
“Dunia kedokteran telah banyak berubah selama 15 tahun terakhir. Semuanya menjadi sangat diatur dan saat ini terlalu banyak waktu dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak berkaitan dengan perawatan pasien. Beban administrasi sangat besar,” tulis Dr. Chan.
“Mustahil untuk mengikuti peraturan yang terus bertambah setiap tahun. Dokter sekarang harus bergabung dengan grup lebih besar untuk mendapatkan bantuan regulasi dan administrasi yang diperlukan,” lanjut Dr. Chan.
Jalan Panjang Jadi Dokter Tidak Selalu Mulus
Di balik keraguan itu, keinginan anak menjadi dokter tetap layak dihargai. Mimpi itu memang mahal, kadang melelahkan, tetapi tetap menyala dan pantas dijaga.
Hal itu juga dirasakan dr. Rizni Fitriana, M.Biomed. Dokter dan dosen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Jakarta itu menjadi dokter pertama di keluarganya. Ia tumbuh di lingkungan nonmedis, tetapi minat pada dunia kedokteran muncul sejak kecil.
“Dari kecil memang sudah punya minat untuk menjadi seorang dokter, walaupun waktu masih SD belum tahu profesi dokter itu sebenarnya seperti apa, tapi melihat gambaran-gambaran umum dari dokter itu sudah mulai tertarik.
Sampai akhirnya ketika SMA sudah mulai memutuskan mau sekolah kedokteran,” kisahnya kepada Diajeng belum lama ini.
Keinginan itu tidak datang sebagai angan kosong. dr. Rizni mulai menyiapkan langkah sejak sekolah. Ia belajar, ikut les, dan menata jalan setapak menuju kampus kedokteran.
“Pada waktu itu, sudah berusaha untuk ikut les, belajar yang cukup,” lanjut dr. Rizni, “tapi keadaan waktu itu ternyata tidak memungkinkan saya untuk langsung jadi mahasiswa kedokteran,”
Alih-alih berhenti, dr. Rizni memilih menunda sejenak. Ia mengambil gap year, lalu masuk jurusan Biologi untuk memperkuat fondasi ilmu sebelum kembali mengetuk pintu fakultas kedokteran.
Jalan itu tetap berat. Namun, ia tidak berjalan sendirian. Meski keluarganya tidak datang dari dunia medis, orang tuanya tetap memberi ruang, dukungan, dan pengertian agar ia bisa bertahan.
“Semua itu bisa dilewati dengan pengertian orang tua yang cukup dan juga sangat suportif,” imbuh dr. Rizni.

Komentar