Jakarta, Mustika Times – Sejumlah musisi dan aktivis menggelar konser bertajuk “Dari Warga untuk Andrie Yunus” di M Bloc Live House, Minggu (27/4/2026). Konser ini menjadi panggung solidaritas untuk Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, yang mengalami serangan air keras pada Maret lalu.
Aksi ini bukan sekadar konser dengan lampu panggung dan dentuman musik. Para peserta mengubah panggung menjadi ruang perlawanan, tempat solidaritas berbicara lebih lantang dari rasa takut.
Panggung Solidaritas Jadi Ruang Perlawanan
Panitia membuka acara dengan pemutaran film Pesta Babi, pameran mural, dan konferensi pers soal perkembangan kasus Andrie Yunus. Setelah itu, para musisi menutup panggung dengan penampilan dari Efek Rumah Kaca, Banda Neira, Down For Life, Usman and The Blackstones feat. Gugun Blues Shelter, Fajar Merah, serta sejumlah musisi lainnya.
Sebelum musik dimulai, para musisi membacakan pernyataan solidaritas yang bertepatan dengan Hari Bumi 2026. Dalam pernyataan itu, mereka menyoroti krisis ekologis dan krisis demokrasi di Indonesia sebagai dua wajah dari kegagalan sistem yang sama.
Mereka juga menyuarakan kritik terhadap isu lingkungan, perluasan peran militer di ranah sipil, pengelolaan sumber daya, serta berbagai persoalan sosial-politik lain yang terus menekan ruang sipil.
Musisi Desak Negara Tuntaskan Kasus Andrie
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mendesak negara menuntaskan kasus Andrie Yunus hingga ke aktor intelektual di balik serangan itu. Ia juga meminta negara membongkar kasus serangan terhadap pembela HAM lainnya.
“Kami mendesak negara-negara untuk menuntaskan kasus Andrie Yunus hingga ke dalang intelektualnya termasuk kasus serangan terhadap pembela HAM yang lain, dan memperbaiki kebijakan-kebijakan strategi yang relevan dengan penghidupan dan pengalaman keseharian masyarakat terutama generasi muda dalam memperoleh pekerjaan layak, pendidikan, kesehatan fisik maupun mental, serta akses perumahan,” kata Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia.
Selain itu, Usman meminta negara memperbaiki kebijakan strategis yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Ia menekankan pentingnya akses terhadap pekerjaan layak, pendidikan, kesehatan fisik dan mental, serta perumahan, terutama bagi generasi muda.
Ananda Badudu: Andrie Takut Teman-Temannya Bungkam
Sementara itu, Ananda Badudu, vokalis Banda Neira, mengaku sempat berbincang dengan Andrie Yunus saat menjenguknya di rumah sakit. Dalam obrolan itu, Andrie tidak bicara soal luka di tubuhnya, melainkan soal rasa takut yang bisa menjalar ke kepala banyak orang.
Menurut Ananda, Andrie khawatir serangan itu membuat teman-temannya takut bersuara dan enggan bergerak. Kekhawatiran itu menjadi beban yang lebih berat daripada luka fisik.
“Dia takut serangan itu bikin teman-teman takut. Bikin teman-teman enggan bersuara, enggan bergerak. Itu salah satu hal yang dia khawatirkan.”
Namun, kehadiran publik dalam konser solidaritas ini justru menjawab kecemasan itu. Malam itu, panggung menjadi bukti bahwa teror memang bisa melukai tubuh, tetapi gagal mematikan suara.
Perjuangan Belum Selesai
Ananda juga menegaskan proses peradilan militer yang akan dimulai pada Rabu (29/4/2026) belum menjadi akhir perjuangan. Menurutnya, proses hukum itu belum menutup peluang munculnya jalur pidana umum.
Ia menyampaikan pesan dari Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya bahwa temuan baru dan bukti tambahan masih bisa mendorong proses hukum ke peradilan pidana umum.
“Jadi, walaupun tuntutan militer akan dimulai, itu berarti kampanye kita telah selesai, bukan berarti gerakan kita telah selesai.”

Komentar