Beranda » Mustika » Polemik Wasit Liga Indonesia : Seperti Kentut, Baunya Tercium Tapi Bentuknya Gak Ada

Polemik Wasit Liga Indonesia : Seperti Kentut, Baunya Tercium Tapi Bentuknya Gak Ada

mustikatimes.online Wasit adalah penjaga keadilan dalam pertandingan. akan tetapi di Liga Indonesia, posisi wasit justru sering kali berada di tengah sorotan negatif dianggap sebagai pemicu keributan, penyulut kontroversi, hingga biang keladi kekalahan.

Yusuf Kurniawan atau Bung Yuke wartawan Skors sekaligus pengamat sepak bola, menilai bahwa kecurigaan masih sama sebelum dan sesudah adanya VAR.

“di sepertiga akhir musim permasalahanya masih sama, tendensinya masih sama, waloupun di pertandingan penting sudah pake wasit asing juga. Ya kayak kentut lah, baunya tercium tapi bentuknya gak ada gitu ya?” Ucapnya seraya tertawa di kanal YouTube Okezone.

Opini publik tentang wasit cenderung skeptis, bahkan sinis.

Tingkatkan Skill Komunikasi Organisasi, Farah Ghifari Bagikan Tips Membangun Partisipasi Aktif dalam Organisasi

Banyak keputusan yang dinilai tidak konsisten, lamban, atau berat sebelah. Masalahnya bukan hanya soal human error, tapi juga tentang “kualitas dan kredibilitas sistem”.

Minimnya pelatihan berstandar internasional, kurangnya penggunaan teknologi seperti VAR, dan tekanan besar dari klub serta suporter membuat wasit sulit menjalankan tugasnya secara optimal. Dalam atmosfer liga yang panas dan penuh tekanan, integritas wasit bisa dengan mudah diragukan.

Namun demikian, menyalahkan wasit liga indonesia semata juga tidak adil. Banyak dari mereka bekerja dalam situasi yang jauh dari ideal: jadwal padat, perlindungan minim, dan kadang harus menghadapi ancaman langsung di lapangan.

Belum lagi ditambah stigma buruk dari masa lalu yang masih membayangi dunia perwasitan Indonesia yang menambah daftar panjang.

Usia Senja Tetap Ceria, Paguyuban Pengusaha Jaga Tawa Bersama

Apa yang dibutuhkan ke depan adalah reformasi sistemik.

Pembinaan dan sertifikasi wasit harus ditingkatkan, transparansi evaluasi diperjelas, dan penggunaan teknologi harus segera diadopsi secara serius. Yang lebih penting, semua pihak—dari pemain, pelatih, hingga manajemen klub dan suporter—perlu mulai membangun budaya yang menghargai keputusan wasit, bukan selalu mencurigainya.

Karena pada akhirnya, kualitas liga tidak hanya diukur dari gol dan trofi, tapi juga dari seberapa adil dan profesional permainan dijalankan. Dan wasit adalah jantung dari keadilan itu.

PBVSI Panggil 16 Pemain Timnas Voli Putra untuk AVC Nations Cup dan SEA V League 2026

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *